Teks 1 (Soal 1 - 7)
Pesona Sungai Kapuas
Sungai Kapuas merupakan sungai terpanjang di Indonesia yang mengalir melintasi Provinsi Kalimantan Barat dan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat setempat. Sungai ini membelah wilayah Kota Pontianak dan tampak membentang luas dengan aliran airnya yang tenang. Di tepian sungai, terlihat perahu-perahu tradisional yang digunakan warga untuk berbagai aktivitas sehari-hari, mulai dari sarana transportasi air hingga mencari ikan. Kawasan tepian Sungai Kapuas juga menjadi ruang publik yang ramai dikunjungi masyarakat untuk menikmati suasana kota dan melepas penat.
Ketika sore menjelang, pemandangan di sekitar Sungai Kapuas terasa semakin memesona. Langit di atas perairan tampak berwarna jingga kemerahan saat matahari mulai terbenam, berpadu dengan pantulan cahaya di permukaan air yang mengalir perlahan. Suasana di sekitar tepian pun menjadi lebih tenang dan sejuk, ditemani angin senja yang berembus lembut. Keindahan visual tersebut memberikan kesan eksotis dan menenangkan bagi siapa saja yang duduk menikmatinya dari daratan maupun dari atas perahu.
Selain keindahan alam dan panorama matahari terbenamnya, kawasan Sungai Kapuas menyimpan denyut nadi perekonomian dan kebudayaan lokal. Berbagai aktivitas perdagangan tradisional dan kebiasaan masyarakat pesisir sungai masih terjaga dengan baik hingga kini. Perpaduan antara bentangan air yang luas, aktivitas warga di atas perahu, serta lanskap kota di tepiannya membentuk pesona khas yang menjadikan Sungai Kapuas sebagai ikon pariwisata kebanggaan Kalimantan Barat.
Teks 2 (Soal 8 - 14)
Batu Menangis
Cerita Rakyat Kalimantan Barat
Di sebuah bukit yang jauh dari pedesaan, di pinggiran daerah Kalimantan, hiduplah seorang janda miskin bersama anak gadisnya yang bernama Darmi. Suami janda tersebut telah lama meninggal dunia, sehingga ia harus banting tulang bekerja setiap hari untuk menghidupi diri dan anaknya. Berbeda dengan ibunya yang rajin dan sederhana, Darmi adalah gadis yang sangat pemalas dan sangat memperhatikan kecantikan fisiknya. Ia enggan membantu pekerjaan rumah dan selalu menghabiskan waktu bersolek, serta merasa malu harus hidup dalam kemiskinan.
Suatu hari, ibu dan anak ini pergi ke pasar desa yang terletak jauh di lembah untuk membeli kebutuhan pokok. Selama perjalanan, sang Ibu berjalan di belakang sambil membawa barang-barang belanjaan yang berat, sementara Darmi berjalan di depan dengan pakaian yang indah seolah-olah ia adalah seorang putri bangsawan. Kecantikan wajah Darmi memang luar biasa, namun perilakunya sangat sombong. Sepanjang jalan, banyak pemuda desa yang terpesona melihat kecantikannya, lalu bertanya kepada Darmi mengenai wanita tua di belakangnya.
Karena malu mengakui ibunya yang berpakaian sederhana dan berwajah lelah, Darmi dengan tega menjawab di hadapan banyak orang, "Dia bukan ibu saya! Dia adalah pesuruh saya yang menyewa perjalanan bersama saya." Mendengar perkataan yang sangat menyayat hati itu, sang Ibu terdiam seribu bahasa. Hancur seketika perasaan wanita paruh baya tersebut karena anak kandung yang amat disayanginya tega mengingkari dirinya di depan umum.
Sesampainya di dekat tebing batu, sang Ibu tidak sanggup lagi menahan kepedihan di dadanya. Ia mengangkat kedua tangannya ke langit dan memanjatkan doa dengan linangan air mata yang deras. Ia memohon kepada Yang Maha Kuasa agar menghukum anak durhaka tersebut.
"Ya Tuhan, hukumlah anak yang tidak tahu berterima kasih ini! Sadarkanlah ia atas kesombongannya!" seru sang Ibu dengan suara bergetar.
Seketika itu juga, langit mendadak gelap dan petir menyambar. Perlahan-lahan, kaki Darmi mulai terasa kaku dan berubah menjadi batu. Perubahan itu terus merambat naik ke seluruh tubuhnya sambil disaksikan oleh warga desa. Darmi menangis histeris ketakutan dan memohon ampun kepada ibunya, namun semuanya sudah terlambat.
"Ibu! Ampuni anakmu, Ibu! Tolong saya!" teriak Darmi sambil menangis tersedu-sedu.
Tidak lama kemudian, seluruh tubuh Darmi telah berubah menjadi batu sepenuhnya. Meskipun telah menjadi batu, mata patung tersebut masih terus mengeluarkan air mata, seolah-olah ia sedang menangisi penyesalannya. Sampai sekarang, tempat tersebut dikenal oleh masyarakat sebagai "Batu Menangis" dan menjadi pengingat bagi setiap anak agar selalu berbakti serta menghormati orang tua mereka.
Kisah dalam cerita ini selaras dengan ajaran kebaikan, sebagaimana firman Allah, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS. Al-Isra: 23).
0 komentar:
Posting Komentar