Komunitas Blogger Pontianak

Kapan Nikah?

oleh Asmirizani

Pertanyaan "kapan nikah?" terkadang menjadi beban bagi laki-laki maupun perempuan yang berusia di atas dua puluh lima tahun. Pertanyaan ini membuat hati risau dan kadang marah. Pertanyaan tersebut sepertinya menyinggung perasaan. Apalagi pasangan belum ada dan usia semakin tua.

 http://www.asmirizani.com/2016/12/kapan-nikah.html

Ada beberapa alasan yang menyebabkan pria dan wanita terlalu lama menikah, satu diantaranya sedang memilih. Sedang memilih atau tidak ada yang dipilih? Mungkin belum ada pasangan hati yang cocok. Alasan ini menjadi alasan jitu jika ditanya oleh orang lain mengenai pernikahan. Terkadang hanya ucapan, "Doakan saja supaya segera dapat pasangan dan menikah".

Teman-teman yang satu sekolah/kuliah sudah menikah dan bahkan telah memiliki anak. Jika bertemu dengan teman yang telah menikah, apalagi si teman telah memiliki anak, tentu yang ditanyakan, "Sudah berapa anak?" Bagaimana punya anak, nikah pun belum. Alangkah jengkelnya jika ditanya seperti itu setiap bertemu teman yang sudah memiliki anak.

Paling menjengkelkan, saat pergi undangan pernikahan, yang ditanya pengantin adalah pasangan kita. Kita menghadiri undangan pernikahannya untuk memberikan ucapan selamat dan doa kepada pasangan pengantin. Sang pengantin malah mendoakan kita yang belum mendapat pasangan agar segera berpasangan dan  menyusul menikah. Inikan terbalik jadinya. Rasa jengkel mulai muncul untuk tidak pergi undangan seorang diri.

Sebagian orang tua, khususnya ibu, akan selalu menanyakan pada anaknya yang pria tentang kapan rencana menikah. Berbeda wanita, hanya menunggu pria datang meminang. Nah, pria harus berani berbicara pada orang tua untuk meminang sang pujaan hati. Bukan hanya datang ke rumah dan membawa wanita untuk berjalan atau pergi undangan pernikahan. Tetapi bawalah wanita menjadi bidadari surga di rumah tangga dunia dan akhirat.

Pria dan wanita yang belum juga menikah terkadang sibuk dengan pekerjaan. Mengejar karier merupakan hal penting baginya. Asik bekerja berambisi mengejar target pencapaian sukses di usia muda sehingga belum terpikir untuk menikah. Menjadikan hidup mapan dalam hal materi untuk berumah tangga. Setelah mapan, barulah waktunya mencari pasangan. Dalam mencari pasangan terkadang lama, belum lagi ada kriteria tertentu yang tak sesuai. Selektif menjadi keharusan dalam menentukan pasangan sesuai kriteria. Tentu seseorang memiliki kriteria mengenai pasangan. Namun terkadang tidak semua kriteria yang diinginkan ada pada pasangan.

Wanita bukan hanya menunggu jodoh tetapi jemputlah jodoh. Menjemput jodoh sambil memantapkan diri, memperbaiki diri menjadi lebih baik dan pantas. Pria begitu juga, berusaha mendekatkan jodoh. Berusaha, berdoa, dan bertawakal tiada henti sambil memantapkan diri untuk siap kelak menjadi imam rumah tangga.

Supaya pertanyaan kapan nikah tidak terdengar lagi di telinga kita alangkah baiknya segera memantapkan diri menikah. Jika sudah merasa mampu bertanggung jawab memberi nafkah secara lahir dan batin maka menikahlah.
Jika alasan belum mampu untuk menikah dalam hal materi, Allah akan memampukan dengan karunia-Nya. Sebagaimana tertera dalam surah An-Nur ayat 32, Allah memerintahkan untuk menikahkan orang yang membujang, dan orang yang layak menikah. Jika mereka miskin Allah akan memampukan dengan karunia-Nya. Baca surah An-Nur ayat 32 di sini.

Memutuskan menikah dengan kemantapan hati dan disertai niat tulus karena Allah SWT. Bukan menikah hanya karena menghindari pertanyaan, "Kapan nikah?"
Mantapkan niat untuk menikah walaupun belum ada pasangan. Tetap berusaha mendekatkan dan menjemput jodoh. Selain berusaha harus tetap berdoa dan tawakal. Semoga Allah memudahkan jodoh dan mencukupkan kemampuan  untuk menikah bagi pembaca tulisan ini.

Sudahkah memantapkan hati untuk menikah?


Terima kasih telah berkunjung di laman www.asmirizani.com. Saya menantikan pendapat pembaca berupa kritik dan saran mengenai tulisan berjudul Kapan Nikah. Tulis pendapat pembaca pada kolom komentar di bawah. Ada baiknya jika tulisan ini dibagikan pada teman-teman sehingga bermanfaat.

Share on Google Plus

About Asmirizani

Lelaki biasa yang sedang belajar mengeja hidup. Membaca, menulis, dan belajar tiada henti ditemani secangkir kopi jahe,